Tuesday, June 2, 2020

DISIPLIN BEKERJA MEMBUAHKAN HASIL


Kerja keras, disiplin dan keikhlasan dalam bekerja akan membuahkan hasil yang baik

Keberhasilan tentu di raih dengan cara yang tidak mudah, karena di butuhkan usaha dan kerja keras. Seperti yang saya alami, mulai dari Sekolah, mencari pekerjaan, Bekerja, memimpin Sekolah sampai mengatur keluarga. Nama saya adalah Rasita terlahir dari keluarga yang  tidak mampu dan mempunyai 4 orang saudara . saya adalah anak pertama dari  empat saudara, jarak antara adik kakak sangatlah rapat antara 2 tahun sudah ada adek lagi. Jadi kalau dihitung kakak beradik semuanya lima orang 2 perempuan dan 3 Laki – laki.


Saya tinggal di sebuah Desa Kecil yaitu Keluru Kecamatan Danau Kerinci Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, yang sekarang telah berubah nama Kecamatannya dengan adanya pemekaran wliyah menjadi Kecamatan Keliling Danau. Desa ini diapit oleh Sawah yang menghijau dan depannya ada Danau yang indah, Danau ini dimanfaatkan Masyarakat atau  para nelayan mencari ikan dan tidak ketinggalan dari Bapak saya ikut memasang lukah  dan jarring ikan.


Pada tahun 1974  saya berusia 6 tahun , Bersekolah di SD Negeri 83/III Desa Keluru  setelah 6 tahun bersekolah di SD ini , tibalah saatnya ujian Akhir untuk mengakhiri  bangku Sekolah Dasar


Pada tahun 1980 saya melanjutkan Sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Jujun, yang sekolahnya tidak jauh dari rumah  sekitar 500 meter, disaat bersekolah di SMP inilah saya mulai banyak mengenal kawan yang luar dari Desa saya dan mulai mengenal organisasi sekolah seperti OSIS dan mengikuti banyak kegiatan dari mulai pramuka, olah raga , Kesenian dan dan ilmu agama. Semua kegiatan saya ikuti penuh disiplin dan bertanggung jawab, dari sinilah saya mulai dikenal dikalangan guru dan kawan-kawan tingkatan kelas.

Tugas saya selama belajar di SMP yang di berikan oleh orang tua, pulang sekolah adalah mencuci pakaian, bersih rumah, masak dan mengasuh adik –adik, setiap hari saya jalani dengan penuh rasa tanggung jawab dan di siplin, sedangkan orang tua pergi kekebun.
Hari minggu tugas saya adalah menolong orang tua di kebun, memanen sayur dan juga ikut menanam tanaman pala wija dan malam harinya mengikis ranting kayu manis yang sudah di potong dan dikuliti oleh orang tua untuk di jual esoknya, sebagai belanja mingguan dan ibuk mengikat sayur – sayuran untuk dijual.

Pada tahun 1983 saya telah menamatkan sekolah di SMPN Jujun, dan melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas yaitu Sekolah Pendidikan Guru (SPGN)  Sungai Penuh. Yang jarak sekolah dari rumah saya adalah lebih kurang 30 kilo meter.

Kenapa saya masuk SPG ? karena orang tua saya tidak mampu,  menurut pemikiran orang tua setelah tamat sekolah SPG  bisa langsung melamar pekerjaan dan tidak perlu kuliah lagi karena biaya tidak ada, dan adik – adik banyak yang  mau sekolah juga.

Ketika mulai masuk Sekolah saya tinggal dikosan dengan menyewa 1 kamar dan dihuni oleh 2 orang, guna untuk meringankan pembayaran sewa kamar, kawan saya bernama Eliya. Biaya sekolah sering tersendat – sendat pembayarannya karena menunggu ada uang dan kadang menunggu pinjaman dari orang, sedangkan untuk makan saya di jatah oleh orang tua Rp 1.500 per minggu dan beras serta sayur di kirim dari Kampung.

Saya dan teman sekamar selalu mendisiplinkan diri baik Belajar, bangun pagi maupun membelanjakan uang seperlunya, contoh kalau kami beli ikan berusaha di sore hari karena mengingat penjual sudah mau pulang, kalau kita tawarkan dengan harga murah dia mau.

Kegiatan di SPG saya ikuti dengan baik dan saya termasuk penari SPG, ketika lomba menari antar sekolah di Kabupaten saya ikut serta sebagai peserta. Dan juga ikut penari masal untuk MTQ tingkat Kabupaten.


Dengan guru dan kawan – kawan  sekelas saya sangat akrap, dan sering membantu guru untuk menulis di Papan tulis dan juga merekap nilai yang di suruh wali kelas.

Ketika saya duduk dikelas II SPG kami sudah mulai praktek Mandiri, saya dapat praktek waktu itu Di SDN Pidung yang jarak dari rumah saya sekitar tiga kilo meter.  Satu kelompok praktek mandiri  6 orang, kegitan banyak sekali selain dari Kegiatan Proses Belajar Mengajar ada kegiatan ekstrakurikuler diantaranya Pramuka, olah raga dan kesenian. Pramuka sangat diminati siswa kami melaksanakan cari jejak atau heking, dengan membawa nasi dan makan bersama.


Pada tahun 1986 saya menamatkan sekolah di SPG Negeri Sungai Penuh, dengan mendapat ijazah yang bisa nanti saya gunakan untuk melamar menjadi guru. Empat bulan setelah tamat saya mendapat berita bahwa ada penerimaan calon guru di Provinsi Jambi, saya bersama teman coba berangkat ke Jambi dengan membawa beberapa berkas, ternyata berita itu adalah bohong tidak ada penerimaan calon pegawai untuk guru. Saya pulang kemali ke kampung halaman dengan hati sedih.

Pada tahun 1987 ada salah satu keluarga dari Kabupaten Rejang Lebong ibu kota Curup Provinsi Bengkulu datang ke kampung saya untuk mencari keluarganya, beliau bernama Syaripah. Syaripah  adalah anak bungsu dari nenek kami yang hilang sekitar 50 tahun yang lalu ketika masih bujang.

Syaripah ini pernah sakit berat dan susah di sembuhkan dan beliau berniat kalau dia sehat atau sembuh akan mencari keluarga bapaknya di Kerinci. Syaripah datang dengan modal membawa Ranji yang telah di persiapkan oleh bapaknya ketika masih hidup. Singkat cerita bahwa Syaripah datang  ke Kerinci dengan menaiki truk dan kesasar sampai di Kecamatan Gunung Raya, untungnya pak supir orang baik dan dia diantar lagi ke Alamat yang benar.

Lewat Syaripah inilah saya mendapat berita bahwa di Provinsi Bengkulu masih membutuhkan tenaga guru dan tidak lama lagi akan ada tes calon pegawai negeri untuk guru.  Nah saya mempersiapkan berkas lagi kami berempat dengan keluarga yang semuanya tamatan sekolah guru yaitu Yus, Baidah, Erni dan saya sendiri berangkat ke Curup Rejang Lebong.

Sampai dicurup terasa dingin sekali waktu itu jam menunjuk pukul 4.00 pagi, kami istirahat dan tidur sejenak. Siang harinya kami melanjutkan perjalanan menuju kota Bengkulu sekitar 3 jam kami sudah sampai dan menginap dirumah pak Syaidina Aksar beliau juga orang Kerinci.

Masih menunggu jadwal Penerimaan ada beberapa bulan lagi, kami terpaksa mengontrak rumah tinggal berempat, disini kami harus berhemat karena kami  bertiga berasal dari keluarga tidak mampu sedangkan Yus dari keluarga yang mampu.

Cerita lucu mau puasa bikin cendol untuk tidak banyak makan gula kami beli sari manis, sari manis ini hanya sedikit dimasuk sudah manis ternyata lain dengan Yus karena tidak terbiasa Makai sari manis , sehingga satu kantong sari manis dimasuk semua kedalam cendol sehingga cendol menjadi pahit. Jadi apa yang mau dikata kami semua ketawa, inilah perbedaan oaring kaya dengan orang miskin, orang miskin banyak mengerti bagaimana bisa membagi uang yang sedikit.

Tepatnya di bulan Oktober pengumuman penerimaan CPNS baru khusus untuk Pegawai Guru sudah di buka, kami berbondong – bondong memasukkan lamaran, alhamdulilah lamaran dapat dimasikkan dan tesnya pun kami jalani dengan lancer dan aman.

Pada bulan November buka lagi penerimaan di Provinsi Jambi, sayapun ikut melamar disana, kami hanya beberapa orang saja yang ikut di Provinsi Jambi, dan saya berpikir seandainya saya lulus dua-duanya, saya akan memilih Bekerja di Provinsi Bengkulu karena alasan ingin merantau.

Setelah pengumuman keluar ternyata saya tidak lulus baik yang di Provinsi Bengkulu maupun yang di Provinsi Jambi. Saya sangat sedih sekali hamper satu tahun setengah saya sudah mengangur tidak ada pekerjaan, hanya duduk dirumah saja tersa bosan.

Pada tahun 1988 kembali lagi pengumuman penerimaan CPNS guru, saya tidak bosan dan tidak kecewa walaupun ada keluarga yang tidak boleh lagi saya berangkat tes, namun saya nekat berangkat. Kenapa keluarga tidak boleh lagi ikut tes karena tidak ada biayanya.

Sejarah yang tidak bisa saya lupakan, mau berangkat tidak ada uang, orang tua saya menjual bilik Padi dengan harga Rp 25.000. uang Rp 25.000,- inilah bekal saya berangkat untuk onkos mobil Rp 10.000,- jadi tersisa Rp 15.000 lagi untuk modal saya bertahan di tempat orang.

Sampai Di Bengkulu saya langsung kerumah pak Syaidina yang saya anggap sebagai orang tua angkat, dan saya melengakapi semua berkas dan langsung memasukkan lamaran tidak begitu lama tes langsung dilaksanakan.

Sambil menunggu pengumuman, saya tidak pulang kampung mengingat biaya tidak ada, sayapun bertekat seandainya tidak lulus saya tidak akan pulang kampung ingin mencari pekerjaan apa saja yang penting halal. Dan saya juga di rumah pak Syaidina tetap rajin membantu istrinya, memasak, membersih lantai rumah, mencuci, angkat jemuran serta menyetrika pakaian keluarga pak Syaidina.

Hal – hal yang positif saya kerjakan di rumah pak Syaidina sehingga keluarga beliau  sangat sayang dengan saya, sampai – sampai kakek atau orang tua dari pak Syaidina itu sangat sayang dengan saya, buktinya ketika beliau operasi mata dia ingin saya yang menyuap makan.

Setelah satu bulan saya menunggu keluarlah pengumuman, Alhamdulillah nama saya ada didaftar peserta yang lulus sebanyak 250 orang. Saya merasa senang dan gembira berita ini langsung saya sampaikan dengan orang tua saya lewat talegram waktu itu.

Peserta yang lulus di minta melengakapi bahan untuk di ajukan SKnya, saya segra mempersiapkan berkas dan saya antar ke pegawaian di kantor Gubernur Bengkulu. Saya merasa lega semua persyaratan sudah saya lengkapi, tinggal menunggu SK lagi.

Bulan Ramadhan akan datang,  saya langsung pamit dengan pak Syaidina bahwa saya akan pulang kampung untuk melaksanakan ibadah puasa bersama orangtua sekaligus menunggu SK keluar. Pak Syaidina mengizinkan sedang dana ongkos untuk pulang masih tersisa sekitar Rp 5000 lagi jadi ongkos untuk pulang tidak ada, saya dikirimi lagi uang sama orang tua untuk ongkos mobil. Nah tanpa menunggu lama saya pesan mobil dengan loket Anak Gunung.

Selama bulan ramadhan saya berada dirumah dan menjalankan ibadah puasa bersama orang tua dan adik – adik, pada bulan syawal atau lebaran idul fitri saya mendapat kabar bahwa SK kami sudah keluar dan boleh diambil.

Selesai lebaran saya berangkat ke Bengkulu untuk mengambil SK yang di temani oleh ibuk . esok harinya saya sudah samapi di Bengkulu dengan perjalanan 2 hari satu malam, karena kondisi jalan arah Bengkulu masih jelek dan baru pengerasan belum ada aspal, sekalipun ada yang aspal Cuma beberapa kilo saja itupun aspal tipis dan sudah rusak juga.

Saya pergi kekantor Bupati Bengkulu utara untuk menjemput SK yang di temani oleh ponaan dari pak Syaidina yang masih sekolah di pasantren. Kenapa saya mengambil SK di Kantor Bupati Bengkulu utara? Karena saya melamar dulu khusus untuk jatah Bengkulu utara.

Betapa kagetnya saya melihat SK penempatan saya no urut 1 di SD Negeri 19 Sungai Ipuh II Kecamatan Mukomuko Utara Kabupaten Bengkulu utara. Daerah sungai Ipuh itu adalah desa yang masuk tertinggal dan lokasinya berada di kawasan hutan lindung.

Saya berangkat ke mukomuko untuk melaporkan SK, yang di temani oleh ibuk saya dititipkan oleh pak Syaidina dengan temannya yang bertugas di Mukomuko, paginya saya disuruh teman pak Syaidina untuk bersiap – siap berangkat kekantor Kancam untuk melapor dulu dengan pimpinan cabang dinas pendidikan Kacamatan Mukomuko utara. Saya dikenalkan oleh pak Kancam dengan pengawas pak RUSLI namanya.

Pak Rusli diminta oleh Pak Kancam untuk mengantar saya ke SD Negeri 19 Sungai Ipuh II, sayapun berangkat dengan naik motor yang jaraknya dengan ibu kota Kecamatan adalah 47 km.
Setelah beberapa kilo meter perjalanan yang di lewati saya melihat kiri kanan jalan cukup lumayan bagus termasuk jalan aspalnya juga bagus, kira – kira 30 kilo meter sudah di lewati saya mulai ketemu jalan aspal yang kasar atau kurang bagus kiri kanan padang Sawit.

Memasuki kilo meter ke 40 kami ketemu simpang tiga disana pak Rusli mengambil arah ke kanan, nah saya mulai kaget dan cemas jalan mulai jelek, jalan tanah kiri kanan semak belukar kadang daun ilalang menyentuh kaki saya.

Rasa takut semakin tinggi dan cemas juga dengan pak Rusli kalau dia bukan orang baik nanti saya di perkuasa di tengah hutan, satu persatu desa mulai di temukan, kata pak Rusli sambil menyupir di Kecamatan Mukomuko Utara desa yang paling ramai adalah Sungai ipuh.

Tapi walaupun dia berbicara seperti itu saya tetap juga kuatir karena yang di lewati adalah hutan, terbesit di benak saya kalau memang tidak cocok dan mengkuatirkan saya mengundur diri saja jadi PNS. Dalam berpikir dan menghayal tadi tak terasa kami sudah sampai di depan SD Negeri 19 Sungai Ipuh II.

Pak Rusli berhenti dan memarkirkan motornya di depan perumahan guru, beliau memanggil kepala sekolah tapi tidak ada yang menjawab, kata pak Rusli ayoo kita pergi keujung Desa sana ada kegiatan desa sehabis lebaran pertandingan Bola Kaki antar desa. Saya mengikuti saja apa yang di sarankan oleh Pak Rusli.

Sesampai di Lapangan Pondok Baru namanya, memang ramai saya di temui oleh tokoh masyarakat namanya pak Badri beliau adalah perawat. Pak Badri bercerita dengan saya memakai bahasa daerahnya saya kaget kok bahasa hamper sama dengan bahasa Kerinci.

Mendengar bahasa yang tidak begitu beda dengan daerah saya, saya menjadi punya kekuatan dan semangat untuk tetap melapor SK dan menjalaninya, walaupun tadi pikiran saya sedikit berubah. Saya merasakan bukan merantau tapi ada di daerah sendiri tempat tugas saya. 

Dengan kekuatan bahasa daerah tadi saya menjadi termotivasi untuk tetap dengan pendirian ingin menjadi guru yangprofesional. Saya di beri tugas oleh kepala sekolah memegang kelas III dengan jumlah personil guru dan staf ada 9 orang, terdiri dari guru kelas 6 orang, 1 kepala sekola, 1 penjaga sekolah dan satu guru olah raga.

Karena saya guru baru tentu banyak sekali kekurangan tetapi saya selalu belajar dengan kepala sekolah dan guru senior, suatu hari saya di kagetkan dengan seorang murid namanya Apri. Apri ini termasuk murid yang terkenal nakal dan sering tidak masuk sekolah bahkan, sering betul melawan pada guru. Kali ini dia rajin dan nurut dengan saya, saya bertanya kepada dia kenapa kamu rajin dan nurut sama ibuk, jawabnya cukup singkat karena ibuk masih gadis he he he he saya terkikik – kikik ketawa mendengar jawabanya.

Beberapa tahun kemudian, Satu persatu mulai banyak guru yang mutasi keluar dari daerah tersebut, karena tidak betah lingkungannya yang masih awam, akses jalan pun kurang bagus, semua bahan pokok mahal.

Jadi tinggallah kami tiga orang lagi, 1 kepala sekolah dan 2 orang guru. Kamipun berbagi tugas kepala sekolah mengajar kelas 1 dan II, saya mengajar kelas III dan Iv sedangkan pak Suyadi mengajar kelas V dan VI. Dengan usaha dan upaya yang da tetap kami lakukan yang penting Pembelajaran tetap berlangsung.

Setelah enam bulan saya bertugas saya mendapat jodoh disana seorang PLKB namanya Elmustaf dia adalah anak yatimpiatu, saya merasa tertarik dengan status tidak punya orang tua disamping rasa cita, saya berpikir orang ini pasti mandiri dan dewasa.

Ada yang unik lagi setiap hari pasar dan musim kesawah serta musim durian muridnya sedikit yang hadir, mereka pergi kepasar, kesawah dan cari durian. Namun kelas saya tetap saya disiplinkan supaya tetap berangkat alhamdulilah kelas yang saya pegang tetap jalan dengan normal dan baik.

Untuk menjalani tugas ganda dalam mengajar ini adalah hal yang biasa saya jalani, saya tidak pernah mengeluh dan meninggalkan sekolah, saya adalah guru penghuni tetap didaerah itu sebab liburpun saya tidak keluar dan tidak berlibur di kampung dari desa tersebut sekalipun itu lebaran. Saya tetap berlebaran di desa Sungai ipuh.
Tak terasa sudah lima tahun saya mengabdi di desa tertinggal, selama saya tinggal di desa ini semua kegiatan warga saya selalu mengikuti baik masalah PKK, karang taruna dan kegiatan keagamaan selalu saya ikuti mana yang saya bisa tak segan – segan saya berbagi ilmu dengan pemuda pemudi termasuk ibuk – ibuk.

Lima tahun setengah saya mengabdi disana dengan dikarunia satu orang putri, suami pindah tugas kedesa Penarik sekitar 17 kilo meter, otomatis saya mengikuti juga dan saya di tempat tugaskan di desa Saribulan SD Negeri no 24 Saribulan.

Di SD Negeri 24 Saribulan saya bertugas hanya sebelas bulan, karena hati atau bathin saya menolak. Sekolah ini agak kurang disiplin, terbukti Saya berangkat pagi ternyata sekolah belum di buka dan istirahat terlalu lama. Saya malu dengan masyarakat dan takut dengan tuhan karena tidak menjalankan tugas denagan baik.

Saya kembali mendatangi Kancam untuk minta di mutasi lagi ke sekolah yang lebih disiplin, maka saya ditempatkan di SDN 14 Penarik disinilah hati saya mulai lega dan senang. Saya selalu berangkat pagi – pagi sekitar jam 7.00 saya sudah berada disekolah dan membantu siswa piket rutin saya jalani setiap hari.

Pulang sekolah saya, suami dan anak berangkat kekebun bekerja menanam sawit, sambil menunggu sawit besar kita tanam juga palwijaya, saya tidak kaku untuk menjadi petani karena waktu sekolah sudah terbiasa membantu orang tua di kebun 


Singkat cerita 10 tahun sudah saya mengabdi di sekolah ini dengan mengajar menjadi guru kelas satu dan guru kelas dua dengan total jumlah murid 141 orang terdiri dari kelas satu 72 orang dan kelas dua  69 orang, alhamdulilah semua berjalan lancar dan murid kelas satu semuanya berasal dari rumah tangga belum tau dengan membaca, menulis, dan berhitung akhirnya bisa Cuma dua orang yang masih perlu di bombing ulang.

Tahun 2005 saya di pindahkan oleh kepala sekolah kekelas jauh yang berada di PT Agro Muko. PT ini   mengurus  perkebunannya Sawit maupun pabrik minyaknya. Sedangkan  wali murid disana adalah usia subur.

Kelas jauh ini didirikan karena murid di SD negeri 14 yang sekarang menjadi SD negeri 3 Teras Terunjam karena ada pemekaran wilayah kecamatan tahu 1999 dan mekar lagi di tahun 2009 menjadi SDN 01 Penarik, terlalu banyak hampir mencapai 800 orang.

Saya memimpin kelas jauh ini sama saja memimpin satu sekolah yang utuh kenapa, muridnya mencapai 300 orang ruang kelas ada 12 dan guru semuanya lengkap yang di bantu oleh perusahaan. Dengan modal ini saya bertekat untuk mengembangkan Sekolah kelas jauh ini menjadi maju.

Pada tahun 2008 saya mengirimkan utusan untuk lomba tingkat Kecamatan, hasilnya mendapat juara 1 dan berhak mewakili Kecamatan untuk ketingkat Kabupaten, alhamdulilah sampai di Kabupaten mendapat juara 1lagi dan berhak pula mewakili kabupaten berlomba di tingakat Provinsi.

Kegiatan lomba baik itu LCC, MIPA, Pidato, Da’I cilik selalu menjuarai dari mulai tahun 2008 sampai tahun 2017  dan seallu menjadi wakil kabupaten ketingkat Provinsi.

Pada tahun 2009 tepatnya tanggal 31 oktober Kelas jauh ini resmi berdiri yang dikukuhkan oleh Bupati ikhwan yunus menjadi SD Negeri 14 Penarik. Dan saya diangkat menjadi Kepala sekolah tanggal 25 Pebruari 2010.

Pada tahun 2012 saya terpilih menjadi kepala sekolah berprestasi tingkat kabupaten, guru fevorit tingkat Provinsi. Pada tahun 2015 Sekolah yang saya pimpin mendapat penghargaan dari Bupati sebagai berprestasi dan Sekolah Adiwiyata serta sekolah Penguatan Pendidikan Karakter tahun 2016. Dan menjadi sekolah Adiwiyata Provinsi tahun 2017. Kemudian saya di mutasikan ke SD Negeri 16 Penarik.

Bertugas di SD Negeri 16 Penarik dimulai tanggal 22 November 2017 dengan kondisi Sekolah belum terkreditasi, sarana kurang gurupun kurang serta muridpun sedikit, sekolah ini tergolong sekolah baru, kecil dan belum maju.









Saya sekuat tenaga membenahi sekolah ini dengan kondisi awal serba kurang dan lingkungan kurang terawat disiplinpun juga kurang berjalan.

                                                                   Keadaan dulu

                                                                  Keadaan Sekarang

Lingkungan sudah saya benahi saya berangsur – angsur membenahi kedisiplinan, biasanya guru sering minta izin kadang terlambat datang alahamdulilah semua bisa berubah, jam 7.00 kegiatan sudah di mulai terutama menerapkan literasi atau karakter. Tidak begitu butuh waktu lama sekolah ini sudah menjadi Sekolah adiwiyata kabupaten, dengan didukung oleh penghargaan dari Bupati 





Sembilan bulan kemudian SD negeri 16 Penarik sudah terakreditasi dengan peringkat B nilai 84. Dan satu tahun kemudian terpilih sebagai Sekolah model atau SPMI dari LPMp Bengkulu. Dengan modal kerja keras dan disiplin alhamdulilah dalam jangka satu tahun membina sekolah ini sudah menunjukkan keberhasilannya.



Prestasi siswa bidang pembelajaran juga sudah mulai Nampak dengan menjadi juara II LCC tingkat Kecamatan. Juara MIPA bidang IPA juara I dan juara 1 Lomba Pidato tinkat Kabupaten


Untuk keluarga saya juga selalu mendisiplin anak, mulai dari cara belajar, bekerja membantu orang tua serta menggunakan uang jajan. Terbukti dengan anak yang pertama telah menjadi seorang Dokter umum yang kini sudah mengelola satu klinik sendiri




Dan anak yang kedua juga calon Dokter gigi yang sedang coas pada semester terakhir, kadang saya tidak mengira bahwa saya bisa menyekolah anak di kedokteran, karena mengingat saya pegawai rendahan seorang guru SD dan suami staf biasa di kantoran, serta orang tua miskin.

 

Kemudian anak pertama sudah menikah dengan suaminya juga  seorang Dokter, alhamdulilah saya bersyukur sekali dengan kedisipilanan, kerja keras dan ke ikhlasan dalam bekerja tadi inilah keberkahan yang di berikan oleh allah dengan saya, pernah saya menangis melihat anak saya memakai baju putih pergi ke Puskesmas diwaktu dia intership. Saya tidak mengira saya bisa, menyekolahkan anak sampai menjadi dokter. Mengingat nasip saya ketika sekolah dulu untuk makan saja sulit orang tua memenuhinya.

                                                                  Anak dan menantu

 

inilah cerita inspiratif saya dengan menerapkan kedisiplinan, kerja keras dan keikhlasan akhirnya berbuah manis.


1 comment: